Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Memanfaatkan Bizhub250, Bisa Raup Hasil Maksimal
By : 7to8
Alhamdulillah. Puji syukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Akhirnya bisa membuka blog ini lagi, setelah sekian lama mati suri.
Masih dalam konteks yang sama, yaitu berbagi tulisan,
pengalaman bisnis dan beberapa software terkait, pada kesempatan kali ini saya
ingin berbagi pengalaman bisnis saja.
Setelah berkelana di sana sini, ikut orang, diberikepercayaan pemilik modal, ngelamar pekerjaan, akhirnya saya menemukan titik
point seharusnya. Mungkin inilah titik balik, yang banyak diasumsikan oleh
kerabat dan teman-teman dekat saya, sebagai jalan yang terbaik.
Setelah aktif menjadi tenaga pengajar selama 8 tahun, 10 bulan bermain lumpur di salah satu bengkel motor resmi, setahun menggadaikan
peruntungan bisnis investasi, dan 4 bulan menganggur (sambil melayani order
antar jemput ketintang-bandara juanda, dulu belum ada grab atau yang sejenis)
akhirnya saya harus mengajukan pinjaman dengan agunan satu-satunya mobil hitam
–masih lumayan bagus- yang saya miliki. 30 juta besarnya. 17 juta langsung
amblas untuk investasi (lagi) berwujud perhiasan emas, dan sisanya 13 juta,
nekat membeli mesin foto copy, printer dan pernak-perniknya.
Bisnis foto copy dan percetakan kecil-kecilan. Itu lah
pilihan saya.
Dengan dana sebesar itu, saya bertekad untuk tidak lagi
‘tertipu’, ‘terlena’ dan ‘terikat’ oleh buaian untung sesaat. Langkah-langkah
yang saya tempuh adalah :
1.
Mencari mesin foto copy dengan harga sesuai
budget, yang murah, dan bandel (googling sana-sini)
2.
Menemui penjual mesin foto copy online untuk
sharing
3.
Mempelajari cara kerja mesin foto copy, dengan
mempertimbangkan aspek operasional dan teknis
Akhirnya pilihan saya jatuh pada mesin foto copy KONICA
MINOLTA BIZHUB 250, dengan harga 7.500.000. sebenarnya pilihan tersebut tidak
didasarkan pada kondisi mesin rekkondisi yang ada, tetapi lebih didasarkan pada
pribadi penjual. Saya tertarik dengannya karena dia bersedia membagi ilmu usaha
foto copy, utamanya pada aspek teknis, karena saya sebelumnya sama sekali tidak
mengetahui mesin foto copy dari sisi teknis.
Cukup 3 hari bagi saya untuk menghabiskan sisa dana modal,
yaitu dengan membeli printer EPSON T1100 modifikasi artpaper ink (4.500.000),
paper trim, mesin potong kertas 1 rim bekas (1.500.000), stapler beserta pernak
perniknya (200.000), dan modal utama, kertas berbagai macam dan ukuran
(300.000). Lokasi masih nebeng dengan beberapa kesepakatan dan transaksi non
rupiah.
Target saya tidak muluk-muluk, cukup profit 1,5 jt per bulan
(UMK surabaya waktu itu sudah tembus 2jt/bulan). Bismillah, usaha jalan.
16 Mei 2014 adalah awal usaha foto copy, usaha yang
benar-benar murni saya yang punya, walaupun modalnya didapat dari pinjaman.
-
Minggu pertama tidaklah semanis yang
dibayangkan. Pengeluaran pasti untuk transpor dari rumah ke lokasi usaha
(jaraknya 20 km) tidak berbanding dengan pemasukan (kurang dari 20rb per hari).
-
Minggu kedua masih pesimis, hingga muncul
pertimbangan untuk membuka usaha lainnya.
-
Minggu ketiga dan keempat. Intinya sama.
-
Bulan pertama pendapatan bersih hanya 600rb.
Menginjak bulan kedua, ada beberapa terobosan yang saya
lakukan. Menghubungi teman-teman sekolah, kampus dan lainnya, antar jemput
order, membuka jasa pembuatan apa saja.
Alhamdulillah, ternyata Allah memang Maha Kaya. Terobosan
terakhir lah yang akhirnya jalan sampai sekarang. Bila pada awal saya hanya
mendapatkan nett 40 rupiah dari selembar kertas HVS A4 70 gsm, akhirnya dengan
terobosan yang saya lakukan, sekarang saya (sekali lagi, alhamdulillah)
mendapatkan nett 1.000 – 2.000.
Terngiang dulu banyak yang menyepelekan saya sebagai orang
yang ditakdirkan hanya mampu berpenghasilan nett 6 digit perbulan, sekarang
alhamdulillah rata-rata nett dalam 2 tahun terakhir 8 digit banyaknya.
Pada prinsipnya, bila kita memutuskan untuk membuka usaha,
apapun usahanya, apapun mesin atau peralatan yang kita punya, semuanya
tergantung pada diri kita, seberapa jauh terobosan yang kita buat, seberapa
tekun kita melayani usaha kita sendiri dan seberapa cerdas kita memanfaatkan
apa yang kita punya, itulah yang akan kita dapatkan hasilnya. Dan tentunya,
jangan lupa, waktu antara maghrib dan isya’, kita fokuskan untuk beribadah,
membaca al-waqi’ah 3x, insya’ Allah berkah hasilnya.
Kini tepat 3,5 tahun berjalan, saya bisa mulai menggarap
proyek ketok gubuk, yang kata orang, bila gubuk itu dibangun di surabaya bisa
bernilai miliaran, tapi saya hanya tersenyum. Biarlah gubuk itu nantinya
menjadi peneduh bagi keluarga saya dan bagi mereka yang membutuhkan tempat
teduh, sekaligus sebagai pengenang atau nostalgia bahwa untuk mendapatkan nett
/ profil 8 digit sebulan sudah pernah saya rasakan.
Kerabat dan teman-teman dekat saya bahkan sampai sekarang
masih belum percaya dengan hasil yang saya dapatkan. Hanya istri saya yang
tahu, ibu saya juga tahu, sayangnya, anak saya masih kecil, jadi dia belum tahu
apa-apa. Hehe.
Semoga menginspirasi.
Kontradiksi Sekolah Manusia (Download Bukunya Disini)
By : 7to8Bila pada tulisan sebelumnya saya memaparkan kisah teman lama saya yang tersia-siakan di sebuah lembaga pendidikan, kali ini saya mencoba share buku yang menjabarkan filsafat manusia dalam pendidikan. Kiranya ada keterkaitan antara tersia-siakan dengan sikap tidak memanusiakan, padahal kita sebenarnya telah diajarkan secara lebih mendalam tentang konsep kemanusiaan yang adil dan beradab dalam Pancasila.
Sekolah Manusia. Dari judulnya saja saya sudah melihat kontradiksi, yaitu adanya kata Sekolah dan Manusia sebagai kata majemuk. Karena bagaimanapun juga arti kata sekolah selalu melekat pada diri manusia, dan bukan pada selain manusia. Mana mungkin kita menemukan Sekolah Kucing, Sekolah Gajah, Sekolah Kelinci, yang ada kita menemukan kata Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas tanpa ada peruntukannya. Jika pemilihan kata di atas bermakna majas, maka penggunaannya terkesan arogan karena menganggap sekolah-sekolah selama ini tidak manusiawi, sehingga harus dimunculkan paradigma sekolah manusia yang hanya penulisnya yang tahu.
Bagi anda yang menginginkan buku ini silahkan download di sini. Dalam buku yang anda download, anda akan menemukan berbagai penghargaan, penghormatan dan pengistimewaan siswa dalam dunia pendidikan. Dan sayangnya hal ini tidak berimbang pada penghargaan, penghormatan dan pengistimewaan tenaga pengajarnya. Dengan kata lain, siswa jauh lebih berharga, jauh lebih terhormat, dan jauh lebih istimewa daripada gurunya. Kok bisa?
Menurut Munif Chatib demikian. Ditilik dari strategi Multiple Intelligence System (MIS) yang dijunjung tinggi oleh konsultan pendidikan yang satu ini, siswa sangat disentralkan sebagai manusia teristimewa sedangkan guru hanyalah manusia biasa yang diusahakan untuk mampu beradaptasi dengan manusia teristimewa bernama siswa. Menurut saya, beberapa bagian dalam buku ini tidak sejalan dengan konsep pendidikan Islam yang selama ini saya pelajari, yaitu sebuah konsep yang memuliakan ilmu.Dalam al-Qur'an (An-Nahl:43) disebutkan : "Dan tanyakan kepada ahli dzikir (seorang guru) jika kamu tidak mengetahui". Kemudian menurut Imam Syafi'i seseorang tidak akan mendapatkan ilmu melainkan dengan (memperhatikan) enam hal, yaitu : [1] harus memiliki kecerdasan, [2] memiliki semangat, [3] bersungguh-sungguh, [4] membutuhkan biaya/materi, [5] mendapat bimbingan guru (ustadz), dan [6] membutuhkan waktu yang panjang.
Apa yang akan terjadi bila kajian mendalam Munif Chatib sebagaimana termaktub dalam bukunya Sekolah Manusia diterapkan di lembaga pendidikan? Mungkin pada awalnya akan baik, tetapi akan timbul karakter seenak sendiri, arogan, egois, tidak menghargai orang lain pada diri siswa, karena kebiasaan mereka yang selalu menerima apa yang mereka mau, kebiasaan mereka diistimewakan oleh guru dan kebiasaan mereka menangani hal yang mereka anggap sulit.
Ini hanyalah sebuah tanggapan sementara, tahun depan insya' Allah akan lahir buku yang menjelaskan beberapa konsep yang lebih ilmiah, yang lebih menghargai, dan yang lebih kontekstual lebih dari apa yang disajikan dalam buku ini (karena masih membutuhkan penelitian dan pengkajian lebih lanjut menjawab pertanyaan hebat yang dilayangkan Munif Chatib) dengan judul : Adakah Sekolah (bukan) Manusia?
Jadi, hemat saya, apapun konsep yang kita tawarkan pada dunia pendidikan, jangan lupakan bahwa jika kita menjadi seorang murid, kita harus hormat terlebih dahulu pada siapa yang akan mengajari kita, karena sikap demikian akan menjadikan ilmu yang kita dapat nantinya menjadi lebih barokah di dunia dan akhirat, amieen.
Sekolah Manusia. Dari judulnya saja saya sudah melihat kontradiksi, yaitu adanya kata Sekolah dan Manusia sebagai kata majemuk. Karena bagaimanapun juga arti kata sekolah selalu melekat pada diri manusia, dan bukan pada selain manusia. Mana mungkin kita menemukan Sekolah Kucing, Sekolah Gajah, Sekolah Kelinci, yang ada kita menemukan kata Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas tanpa ada peruntukannya. Jika pemilihan kata di atas bermakna majas, maka penggunaannya terkesan arogan karena menganggap sekolah-sekolah selama ini tidak manusiawi, sehingga harus dimunculkan paradigma sekolah manusia yang hanya penulisnya yang tahu.
Bagi anda yang menginginkan buku ini silahkan download di sini. Dalam buku yang anda download, anda akan menemukan berbagai penghargaan, penghormatan dan pengistimewaan siswa dalam dunia pendidikan. Dan sayangnya hal ini tidak berimbang pada penghargaan, penghormatan dan pengistimewaan tenaga pengajarnya. Dengan kata lain, siswa jauh lebih berharga, jauh lebih terhormat, dan jauh lebih istimewa daripada gurunya. Kok bisa?
Menurut Munif Chatib demikian. Ditilik dari strategi Multiple Intelligence System (MIS) yang dijunjung tinggi oleh konsultan pendidikan yang satu ini, siswa sangat disentralkan sebagai manusia teristimewa sedangkan guru hanyalah manusia biasa yang diusahakan untuk mampu beradaptasi dengan manusia teristimewa bernama siswa. Menurut saya, beberapa bagian dalam buku ini tidak sejalan dengan konsep pendidikan Islam yang selama ini saya pelajari, yaitu sebuah konsep yang memuliakan ilmu.Dalam al-Qur'an (An-Nahl:43) disebutkan : "Dan tanyakan kepada ahli dzikir (seorang guru) jika kamu tidak mengetahui". Kemudian menurut Imam Syafi'i seseorang tidak akan mendapatkan ilmu melainkan dengan (memperhatikan) enam hal, yaitu : [1] harus memiliki kecerdasan, [2] memiliki semangat, [3] bersungguh-sungguh, [4] membutuhkan biaya/materi, [5] mendapat bimbingan guru (ustadz), dan [6] membutuhkan waktu yang panjang.
Apa yang akan terjadi bila kajian mendalam Munif Chatib sebagaimana termaktub dalam bukunya Sekolah Manusia diterapkan di lembaga pendidikan? Mungkin pada awalnya akan baik, tetapi akan timbul karakter seenak sendiri, arogan, egois, tidak menghargai orang lain pada diri siswa, karena kebiasaan mereka yang selalu menerima apa yang mereka mau, kebiasaan mereka diistimewakan oleh guru dan kebiasaan mereka menangani hal yang mereka anggap sulit.
Ini hanyalah sebuah tanggapan sementara, tahun depan insya' Allah akan lahir buku yang menjelaskan beberapa konsep yang lebih ilmiah, yang lebih menghargai, dan yang lebih kontekstual lebih dari apa yang disajikan dalam buku ini (karena masih membutuhkan penelitian dan pengkajian lebih lanjut menjawab pertanyaan hebat yang dilayangkan Munif Chatib) dengan judul : Adakah Sekolah (bukan) Manusia?
Jadi, hemat saya, apapun konsep yang kita tawarkan pada dunia pendidikan, jangan lupakan bahwa jika kita menjadi seorang murid, kita harus hormat terlebih dahulu pada siapa yang akan mengajari kita, karena sikap demikian akan menjadikan ilmu yang kita dapat nantinya menjadi lebih barokah di dunia dan akhirat, amieen.
Nasib Honorer di SD Surabaya yang Dimerger
By : 7to8Akhirnya ketemu juga dengan teman lama semasa di kampus dulu dan kini menjelma sebagai orang yang serba bisa saya kira, he he he. Kali ini saya coba share pengalaman teman saya ini berdasarkan diskusi singkat beberapa waktu lalu. Berikut kisahnya :
Saya : Bosan jadi pegawai?
Teman : Bukannya bosan bro, tapi aku sudah lama tidak merasakan bebas seperti ini.
Saya : Maksudnya?
Teman : Kamu kan tahu kalau guru honorer itu selalu saja terbayangi pemecatan, atau malah gaji diturunkan, diperlambat, belum lagi label sebagai guru ilegal di sekolah negeri.
Saya : Masa sih...
Teman : Itulah yang aku alami. Dulu waktu SDN Ketintang 1 belum merger saja aku sudah tidak dimasukkan ke SK PBM, kasarannya itu statusku ilegal di sana. Nah, pas pergantian kepala sekolah plus keputusan merger dengan SDN Ketintang 3, masa depanku di sana semakin suram.
Saya : Waduh...
Teman : Gajiku diturunkan dari cuman 1juta menjadi 300ribu!!!
Saya : Kejam sekali ...
Teman : Mana cukup buat anak istriku gaji segitu ...
Saya : Terus ...
Teman : KS nya pengecut, mending guru-guru Ketintang 1 yang baik dan diam-diam lah, ini malah dipertemukan dengan guru-guru Ketintang 3 yang pandai cari muka, apalagi TUnya yang katanya waras itu ya... sebenarnya ga waras! hanya gara-gara beruntung namanya tercatut sebagai peserta lolos ujian honorer K2, tingkah lakunya ga karuan.
Saya : Punya bukti?
Teman : Barang-barang inventaris di sana banyak yang raib. Mau lapor ke dinas khawatir ini itu, mau lapor ke bu Risma ga tahu caranya. Kalau masih ada yang menyangsikan, saya berani berani bersumpah Demi Allah. Bayangkan saja, orang yang ditugasi untuk menjaga sekolah yang merger itu tak lain adalah pencuri sepeda siswa yang sempat diperkarakan dan dibebaskan karena suap!
Saya : Walah...
Teman : Ceritanya kan dua bangunan fisik sekolah itu dihancurkan untuk direnovasi ulang, nah barang-barang inventaris di sana otomatis carut marut dan tergeletak tak beraturan. Siapapun pasti bisa mengambil barang-barang milik sekolah, apalagi punya Ketintang 1 yang masih bagus-bagus, kecuali jika penjaganya sigap, pastilah tidak bisa.
Saya : Trus yang bertanggung jawab menjaga itu siapa?
Teman : Ya jelas TU dan penjaga sekolahnya bro. TUnya ga waras, penjaga sekolah mantan maling, KSnya cuman plonga-plongo, guru-gurunya, khususnya Ketintang 3 tuh banyak yang doyan namanya uang BOS! Kalau ga percaya lihat laporannya!.
Saya : Tapi selama ini kan tidak ada kasus...
Teman : Kalau kita mau mengecek kebenaran laporan BOS itu seharusnya 3 elemen di dalamnya diikutsertakan. Penanggung jawab BOS, guru dan komite. Kalau cuman 1 elemen yang diperiksa ya jelaslah mereka bisa bohong. Bilang saja gaji si A sekian ke tim monev, padahal si A hanya menerima sepersekian. Jadi kan tidak ada kroscek hanya cek doang!
Saya : Oh... btw, sekarang kegiatan harian apa nih?
Teman : Ya ini buka usaha sendiri, alhamdulillah masih baru saja sebulan sudah ngantongi 2 juta, he he
Saya : Semoga barokah dan jangan lupa sedekah!
Teman : Tentu!!!
Selepas itu saya bertekad untuk mencoba mempublikasikan hasil percakapan saya tersebut tanpa sepengetahuan teman saya biar para oknum yang bermain di SD ini kapok!
Oh ya, ini brosur usaha teman saya, kalau mau order komen saja di bawah. Trims.
Saya : Bosan jadi pegawai?
Teman : Bukannya bosan bro, tapi aku sudah lama tidak merasakan bebas seperti ini.
Saya : Maksudnya?
Teman : Kamu kan tahu kalau guru honorer itu selalu saja terbayangi pemecatan, atau malah gaji diturunkan, diperlambat, belum lagi label sebagai guru ilegal di sekolah negeri.
Saya : Masa sih...
Teman : Itulah yang aku alami. Dulu waktu SDN Ketintang 1 belum merger saja aku sudah tidak dimasukkan ke SK PBM, kasarannya itu statusku ilegal di sana. Nah, pas pergantian kepala sekolah plus keputusan merger dengan SDN Ketintang 3, masa depanku di sana semakin suram.
Saya : Waduh...
Teman : Gajiku diturunkan dari cuman 1juta menjadi 300ribu!!!
Saya : Kejam sekali ...
Teman : Mana cukup buat anak istriku gaji segitu ...
Saya : Terus ...
Teman : KS nya pengecut, mending guru-guru Ketintang 1 yang baik dan diam-diam lah, ini malah dipertemukan dengan guru-guru Ketintang 3 yang pandai cari muka, apalagi TUnya yang katanya waras itu ya... sebenarnya ga waras! hanya gara-gara beruntung namanya tercatut sebagai peserta lolos ujian honorer K2, tingkah lakunya ga karuan.
Saya : Punya bukti?
Teman : Barang-barang inventaris di sana banyak yang raib. Mau lapor ke dinas khawatir ini itu, mau lapor ke bu Risma ga tahu caranya. Kalau masih ada yang menyangsikan, saya berani berani bersumpah Demi Allah. Bayangkan saja, orang yang ditugasi untuk menjaga sekolah yang merger itu tak lain adalah pencuri sepeda siswa yang sempat diperkarakan dan dibebaskan karena suap!
Saya : Walah...
Teman : Ceritanya kan dua bangunan fisik sekolah itu dihancurkan untuk direnovasi ulang, nah barang-barang inventaris di sana otomatis carut marut dan tergeletak tak beraturan. Siapapun pasti bisa mengambil barang-barang milik sekolah, apalagi punya Ketintang 1 yang masih bagus-bagus, kecuali jika penjaganya sigap, pastilah tidak bisa.
Saya : Trus yang bertanggung jawab menjaga itu siapa?
Teman : Ya jelas TU dan penjaga sekolahnya bro. TUnya ga waras, penjaga sekolah mantan maling, KSnya cuman plonga-plongo, guru-gurunya, khususnya Ketintang 3 tuh banyak yang doyan namanya uang BOS! Kalau ga percaya lihat laporannya!.
Saya : Tapi selama ini kan tidak ada kasus...
Teman : Kalau kita mau mengecek kebenaran laporan BOS itu seharusnya 3 elemen di dalamnya diikutsertakan. Penanggung jawab BOS, guru dan komite. Kalau cuman 1 elemen yang diperiksa ya jelaslah mereka bisa bohong. Bilang saja gaji si A sekian ke tim monev, padahal si A hanya menerima sepersekian. Jadi kan tidak ada kroscek hanya cek doang!
Saya : Oh... btw, sekarang kegiatan harian apa nih?
Teman : Ya ini buka usaha sendiri, alhamdulillah masih baru saja sebulan sudah ngantongi 2 juta, he he
Saya : Semoga barokah dan jangan lupa sedekah!
Teman : Tentu!!!
Selepas itu saya bertekad untuk mencoba mempublikasikan hasil percakapan saya tersebut tanpa sepengetahuan teman saya biar para oknum yang bermain di SD ini kapok!
Oh ya, ini brosur usaha teman saya, kalau mau order komen saja di bawah. Trims.

